Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam

Dr. Eko Muharudin, S.S., M.Pd.

Dosen Prodi PBSI, FKIP, UM Purwokerto

Di tengah hiruk pikuk isu dan fenomena sosial di negara ini, bulan Ramadan telah datang menyambangi rutinitas kehidupan. Rutinitas dan ritual (amaliah) bulan Ramadan di tengah-tengah masyarakat terasa semarak. Di masjid-masjid dan mushola penuh dengan berbagai aktivitas yang menggembirakan, seperti takjil, tarawih berjamaah, sahur bersama, dan kajian-kajian keislaman.

Sebagai muslim yang taat, Ramadan hendaknya tidak dimaknai sebuah rutinitas (kebiasaan) saja, tetapi dapat jugas untuk kegiatan penguatan literasi. Literasi menurut KBBI online (2024) memuat dua arti yakni kemampuan menulis dan membaca serta pengetahuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Literasi juga memiliki pengertian kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif untuk mengembangkan potensi dan dan berpartsipasi dalam kehidupan sosial (Alberta.ca., 2025).

Di bulan Ramadan ini, kesempatan untuk berliterasi secara mendalam bagi muslim jangan dilewatkan begitu saja. Seorang muslim harus menyadari bahwa Islam merupakan agama yang mendorong umatnya untuk melek literasi. Hal ini tidak lepas dari sejarah turunnya kitab suci Al-Qur’an. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat tentang motivasi untuk menuntut ilmu dengan perintah iqra’ (Q.S. Al-‘Alaq: 1).

Iqra’ dalam bahasa Indonesia dimaknai membaca. Menurut Umar (2016) iqra’ memiliki empat makna. Pertama, iqra’ dimaknai how to read, yakni sekedar membaca tanpa ada pemahaman, sebagai contoh orang yang membaca Al-Qur’an. Pembaca hanya membaca dengan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Akan tetapi, pembaca tidak paham makna yang sedang ia baca. Kedua, iqra’ bermakna how to learn. Makna tersebut mengajarkan bahwa membaca merupakan salah satu aktivitas belajar, sehingga seorang pembelajar dan pembaca harus memahami metode atau strategi belajar yang digunakan. Ketiga, iqra’ dimaknai how to understand. Tingkatan membaca yang ketiga ini tidak sekadar membaca, tetapi memahami apa yang dibaca.

Membaca kemudian memahami merupakan aktivitas yang melibatkan indra mata, hati dan pikiran, serta hati yang bersih. Hal ini akan membuat pembaca mudah memahami teks dan ayat-ayat Allah Swt. dalam Al-Qur’an yang memuat perintah, larangan, serta hikmah-hikmah yang mendalam. Sangat disayangkan apabila seorang muslim belum bisa memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang syarat dengan hikmah kehidupan. Memahami merupakan pijakan utama sebelum seseorang menerapkan suatu konsep dan gagasan. Setelah proses ini, seseorang akan dapat memilih, menentukan, dan mendemonstrasikan pemecahan masalah yang ada di sekitarnya (Bloom, 1956).

Momentum bulan Ramadan ini dapat dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk lebih tekun mengkaji kadungan Al-Qur’an. Melalui kajian bersama di masjid-masjid, kampus, sekolah, serta komunitas kajian keislaman, seorang muslim dapat membiasakan dan mempertajam kegiatan literasi agar lebih bermakna. Dengan demikian, seorang muslim dapat memahami ayat-ayat Allah Swt. lebih mendalam. Hasil literasi ini dapat diterapkan dan implementasikan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya, dengan pembiasaan literasi, seorang muslim dapat ikut berkontribusi membawa kebermanfaatan untuk diri dan lingkungan sekitar serta mengimplementasikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam. (17 Maret 2025). Diakses pada Maret 24, 2025 dari artikel: Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam (disway.id)

Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah

Oleh: Desi Endah Lestari

Mahasiswa PG PAUD UMP

Bulan ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Di bulan ramadhan tentu saja setiap muslim menghindari segala maksiat agar puasanya tidak sia-sia, dan juga tidak terhindar dari lapar dan dahaga saja. Puasa yang dikehendaki adalah puasa yang penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT.

Di dalam berpuasa ada salah satu hadist yang populer dan sering kita dengar saat bulan suci ramadhan. Hadist yang menjelaskan keutamaan orang berpuasa, sampai-sampai tidurnya pun berstatus sebagai ibadah. Bahkan dikatakan ini merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Derajat hadist yang sebenarnya adalah hadits yang dho’if (lemah).. Berikut hadist yang menjelaskan tentang hal ini:

  نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipat gandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni” (HR Baihaqi).

Sehingga dengan penyampaian semacam ini, seringkali di kalangan masyarakat dipolitisir. Sebagai pembenaran orang-orang akhirnya bermalas-malasan lebih sering tidur dari pada melakukan ibadah di bulan ramadhan karena termotivasi dari hadist tersebut. Padahal pandangan semacam ini sangat keliru, ini sangat bertentangan dengan salah satu adab dalam menjalankan puasa yang tidak berkenankan memperbanyak tidur di saat siang hari.

Itensitas tidur terlalu banyak berkonotasi negatif karena identik dengan perilaku bermalas-malasan menyebabkan kelalaian. Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan bisa mendapatkan pahala apabila diniatkan sebagai ibadah. Seperti untuk terhindar dari perbuatan maksiat. Faktor kelelahan saat berpuasa setelah melakukan berbagai macam pekerjaan, tidurnya diniatkan untuk istirahat agar fisik lebih bugar dan bersemangat dalam melakukan shalat malam dan melakukan amalan lainnya.

Hal yang sama juga diungkapan oleh Syekh Nawawi al-Bantani:

وهذا في صائم لم يخرق صومه بنحو غيبة، فالنوم وإن كان عين الغفلة يصير عبادة، لأنه يستعين به على العبادة

“Hadits ‘tidurnya orang berpuasa adalah ibadah’ ini berlaku bagi orang berpuasa yang tidak merusak puasanya, misal dengan perbuatan ghibah. Tidur meskipun merupakan inti kelupaan, namun akan menjadi ibadah sebab dapat membantu melaksanakan ibadah” (Syekh Muhammad bin ‘Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qul al-Hatsits, Hal. 66)

Dengan demikian, tidur saat berpuasa dapat disebut ibadah jika memenuhi kriteria, yang pertama tidur diniatkan untuk ibadah bukan bermalas-malasan, ingatlah ‘innamal a’malu bin niyaat” setiap amalan tergantung dari niatnya. Dan kedua tidak mencampuri ibadah puasa dengan perbuatan maksiat.

Semoga Allah menganugerahi kita semua di bulan suci ramadhan yang penuh berkah ini. Aamiin.

Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah. (12 Maret 2025). Diakses pada Maret 12, 2025 dari artikel: Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah (disway.id)

Ramadan dan Efisiensi Anggaran, Sebuah Renungan Optimisme dalam Mencari Rezeki

Oleh: Dr. Labib Sajawandi, M.Pd.

(Kaprodi PGPAUD UMP)

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, termasuk di Indonesia, isu efisiensi anggaran sering kali menjadi perbincangan hangat. Banyak yang khawatir bahwa penghematan anggaran negara akan berdampak pada kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal rezeki. Namun, sebagai Muslim, kita harus tetap optimis karena rezeki adalah urusan Allah SWT. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, dan hal ini tidak terpengaruh oleh kebijakan manusia, termasuk efisiensi anggaran.

Dalam Islam, rezeki dipandang sebagai sesuatu yang telah diatur oleh Allah dengan sangat teliti. Rezeki tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga mencakup kesehatan, ilmu, kebahagiaan, dan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dalam hidup. Dari sudut pandang cara memperolehnya, rezeki dapat dibagi menjadi tiga kategori: rezeki yang ditetapkan, rezeki yang digantungkan, dan rezeki yang dijanjikan. Mari kita bahas ketiganya secara mendalam, dilengkapi dengan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis, serta kaitannya dengan optimisme Muslim dalam menghadapi situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

1. Rezeki yang Ditetapkan (Rizki Ma’lum)

Rezeki yang ditetapkan adalah rezeki yang sudah dijamin oleh Allah untuk setiap makhluk-Nya. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tidak mendapatkan jatah rezekinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa rezeki adalah hak setiap makhluk, dan Allah sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) telah menetapkannya. Dalam konteks efisiensi anggaran, kita tidak perlu khawatir karena kebijakan manusia tidak akan mengurangi rezeki yang telah Allah tetapkan. Misalnya, jika seseorang kehilangan pekerjaan karena pemotongan anggaran, Allah akan membukakan pintu rezeki lain yang mungkin tidak terduga.

Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah membisikkan dalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya.” (HR. Abu Nu’aim)

Dengan demikian, sebagai Muslim, kita harus yakin bahwa rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah pasti akan sampai kepada kita, meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu seperti yang kita harapkan.

2. Rezeki yang Digantungkan (Rizki Mauquf)

Rezeki yang digantungkan adalah rezeki yang Allah berikan berdasarkan usaha dan ikhtiar manusia. Allah SWT berfirman:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia harus berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan rezeki. Namun, hasil dari usaha tersebut tetap bergantung pada kehendak Allah. Dalam konteks efisiensi anggaran, kita harus tetap optimis dan proaktif dalam mencari peluang baru. Misalnya, jika terjadi pemotongan anggaran di sektor tertentu, kita bisa mencari alternatif lain, seperti membuka usaha kecil-kecilan atau meningkatkan keterampilan untuk bersaing di pasar kerja.

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya usaha dalam hadis berikut:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, meskipun rezeki ini “digantungkan” pada usaha kita, kita harus tetap bersandar pada Allah dan tidak putus asa. Optimisme dan kerja keras adalah kunci untuk meraih rezeki jenis ini.

3. Rezeki yang Dijanjikan (Rizki Mau’ud)

Rezeki yang dijanjikan adalah rezeki yang Allah berikan sebagai balasan atas ketaatan dan amal shaleh seorang hamba. Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Rezeki jenis ini sering kali datang tanpa diduga dan diluar perhitungan manusia. Misalnya, seseorang yang rajin bersedekah akan mendapatkan rezeki yang berlipat ganda dari sumber yang tidak terduga, seorang yang pandai bersyukur pun demikian akan ditambah nikmatnya begitu pula amal-amal lain yang disukai Allah SWT. Dalam konteks efisiensi anggaran, kita harus meningkatkan ketakwaan dan amal shaleh, seperti sedekah, infak, dan zakat, karena Allah telah menjanjikan rezeki bagi orang-orang yang bertakwa.

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَال

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa rezeki yang dijanjikan oleh Allah tidak terbatas pada materi, tetapi juga mencakup keberkahan dan ketenangan hati.

Ramadan: Momentum Menguatkan Optimisme

Bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menguatkan optimisme dalam mencari rezeki. Selama Ramadan, kita diajarkan untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal shaleh, dan mendekatkan diri kepada Allah. Puasa mengajarkan kita untuk bersabar dan percaya bahwa Allah akan memberikan rezeki yang terbaik. Amal-amal kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Doa adalah senjata utama seorang Muslim dalam menghadapi segala tantangan, termasuk ketidakpastian ekonomi. Dengan memperbanyak doa, terutama di bulan Ramadan, kita bisa memohon kepada Allah agar membukakan pintu rezeki yang luas dan berkah.

Maka diakhir tulisan ini, penulis ingin menguatkan optimisme kaum muslimin, bahwa Allah SWT tetap membuka lebar nikmat kepada hambanNya. Memang secara makro kita tetap perlu kritisi setiap kebijakan agar betul-betul bermanfaat untuk kemaslahatan rakyat. Tetapi secara mikro kita sebagai muslim jangan sampai putus asa dan kehilangan optimisme dalam hidup.

Efisiensi anggaran mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang, tetapi sebagai Muslim, kita harus tetap optimis karena rezeki adalah urusan Allah. Rezeki yang ditetapkan, digantungkan, dan dijanjikan oleh Allah tidak akan terpengaruh oleh kebijakan manusia. Yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha, bertakwa, dan berdoa.

Bulan Ramadan mengajarkan kita untuk bersabar, bersyukur, dan percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan menguatkan keyakinan bahwa rezeki dari Allah tidak akan pernah tertukar atau tertunda.

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (jaminan) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Dengan keyakinan ini, kita bisa menghadapi segala tantangan ekonomi dengan hati yang tenang dan penuh optimisme. Selamat menunaikan ibadah Ramadan, selamat menikmati jamuan Allah SWT. semoga kita semua diberikan rezeki yang hala, berkah dan melimpah. Aamiin.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Ramadan dan Efisiensi Anggaran, Sebuah Renungan Optimisme dalam Mencari Rezeki. (8 Maret 2025). Diakses pada Maret 10, 2025 dari artikel: Ramadan dan Efisiensi Anggaran, Sebuah Renungan Optimisme dalam Mencari Rezeki (disway.id)

UMP Jalin Kerja Sama Akademik dengan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus memperluas jejaring kerja sama internasional dalam upaya meningkatkan kualitas akademik dan pengembangan keilmuan. Kali ini, UMP menjalin kesepakatan kerja sama akademik dengan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, yang ditandai dengan pertemuan antara Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, dan Dr. Ali Sayyid Athiyah dari Universitas Al-Azhar Kairo.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menyepakati beberapa poin penting yang akan menjadi dasar implementasi kerja sama akademik. Salah satu hasil utama dari pertemuan ini adalah pengiriman dosen tamu dari Universitas Al-Azhar Kairo ke UMP guna memberikan wawasan dan pengalaman akademik yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen UMP.

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis bagi UMP dalam memperkuat jejaring akademik internasional, terutama dengan Universitas Al-Azhar Kairo yang memiliki reputasi tinggi dalam bidang keislaman dan pendidikan. Kami sangat antusias dengan rencana pengiriman dosen tamu dari Al-Azhar, yang tentunya akan memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan dosen UMP,” ujar Prof. Dr. Jebul Suroso, Rektor UMP.

Kerja sama ini akan diprioritaskan pada program Studi S1 Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Prodi S1  Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam (FAI) UMP. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan pengajaran bahasa Arab dan studi keislaman di UMP semakin berkualitas serta mampu bersaing dalam lingkup akademik internasional.

Selain itu, kerja sama antara UMP dan Universitas Al-Azhar Kairo juga akan diperluas ke bidang kedokteran dan ilmu kesehatan, melibatkan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan UMP. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia yang lebih kompetitif dan kolaborasi dalam penelitian serta program akademik di bidang kesehatan.

Dengan adanya kerja sama ini, UMP semakin mengukuhkan dirinya sebagai kampus yang unggul, modern, dan berorientasi global. Langkah ini juga menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan serta memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap jejaring akademik internasional, khususnya dalam bidang studi keislaman, bahasa Arab, dan ilmu kesehatan.

Kesepakatan ini menandai awal dari kerja sama yang lebih erat antara UMP dan Universitas Al-Azhar Kairo, yang diharapkan dapat memberikan manfaat luas bagi perkembangan akademik serta memperkaya wawasan keilmuan bagi civitas akademika UMP.

UMP Jalin Kerja Sama Akademik dengan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. (5 Maret 2025). Diakses pada Maret 06, 2025 dari artikel: UMP Jalin Kerja Sama Akademik dengan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir – Lensa Banyumas (pikiran-rakyat.com)

Program Studi Bahasa Arab UMP Gelar Seminar Nasional: Pembelajaran Bahasa Arab di Era AI

Program Studi Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab di Era Artificial Intelligence (AI)” pada Kamis, 20 Februari 2025 di Ruang Ak-Anshori, Kampus 1 UMP.

Acara ini bertujuan untuk membahas manfaat serta tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam mempelajari bahasa Arab di era teknologi kecerdasan buatan.

Seminar ini menghadirkan tiga pemateri ahli di bidangnya. Yoke Suryadarma, S.Pd.I., M.Pd.I., Dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), sebagai pemateri pertama, menekankan pentingnya AI dalam perkembangan pembelajaran bahasa Arab.

Menurutnya, AI dapat menjadi alat yang sangat mendukung pembelajaran bahasa, terutama dalam hal analisis bahasa, penerjemahan, dan pemrosesan teks.

Selanjutnya, Dr. Mohammad Ahsanuddin, M.Pd., Ketua Program Studi Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM), memaparkan peluang besar yang ditawarkan AI dalam mendukung pembelajaran bahasa Arab.

Ia menjelaskan bahwa berbagai aplikasi berbasis AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, terutama dalam hal interaksi, pengenalan pola bahasa, serta personalisasi materi ajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa.

Sementara itu, Muhammad Asdi Nurkholis, S.Pd.I., B.Ed., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UMP, dalam wawancaranya di Gedung Rektorat Kampus 1 UMP, menyoroti tantangan utama dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran bahasa Arab. Ia menegaskan bahwa meskipun AI dapat menjadi alat bantu yang efektif, penggunaannya tetap memerlukan kehati-hatian.

“AI dalam prosesnya hanya sebagai sarana. Kita bisa memanfaatkan AI, tetapi tidak dapat sepenuhnya bergantung padanya. AI masih memiliki banyak keterbatasan, seperti validitas referensi dan pemahaman konteks yang lebih kompleks,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran dosen dalam proses pembelajaran.

“Pada dasarnya, mahasiswa tetap harus membaca, memanfaatkan literatur yang kredibel, serta berdiskusi langsung dengan dosen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam,” tambahnya.

Seminar ini mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa yang ingin memahami bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran bahasa Arab.

Dengan adanya seminar ini, UMP semakin mempertegas komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan berbasis teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip akademik yang kokoh. (Amr/Tgr)