Siswa siswi BA ‘Aisyiyah 1 Bukateja Antusias Jelajahi UMP, Kenal Dunia Kampus Sejak Dini

PURWOKERTO – Suasana ceria dan penuh semangat terlihat saat puluhan anak didik BA ‘Aisyiyah 1 Bukateja mengunjungi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dalam kegiatan touring campus yang didampingi oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMP. Kegiatan ini menjadi pengalaman edukatif yang berkesan bagi anak-anak usia dini untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi secara langsung, kegiatan dilaksanakan kamis (7/5) lalu.

Sejak kedatangan di kampus, rombongan peserta didik BA ‘Aisyiyah 1 Bukateja mendapatkan sambutan hangat dari jajaran FKIP UMP, mulai dari Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi PG PAUD, hingga mahasiswa yang turut mendampingi selama kegiatan berlangsung.

Kepala BA ‘Aisyiyah 1 Bukateja, Umul Fauziah, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas sambutan luar biasa yang diberikan UMP selama kunjungan berlangsung.

“Kami dari BA ‘Aisyiyah 1 Bukateja mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Purwokerto, terutama kepada Bapak/Ibu Dekan, Wakil Dekan FKIP UMP, Kaprodi PG PAUD, beserta seluruh mahasiswa yang telah mendampingi kami dan anak didik kami dalam kegiatan touring kampus UMP,” ujarnya senin (11/5) di purwokerto.

Ia menuturkan bahwa sejak awal kedatangan, anak-anak merasa nyaman meskipun berada di lingkungan yang baru. Antusiasme mereka terlihat sepanjang kegiatan, bahkan saat harus berjalan kaki mengelilingi beberapa lokasi di kampus.

“Anak-anak sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Walaupun mereka berjalan kaki, mereka tidak mengeluh karena begitu menikmati pengalaman baru ini,” tambahnya.

Menurut Umul, para mahasiswa pendamping juga menunjukkan kesabaran dan ketelatenan saat mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung.

“Mahasiswa pendamping dengan sabar melayani dan mendampingi peserta didik kami, menghadapi tingkah polah dan kelucuan mereka yang terkadang merepotkan. Kunjungan ini memberikan pengalaman luar biasa, tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga bagi kami para guru,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan tidak hanya diajak melihat ruang kelas di FKIP, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai fasilitas di sejumlah fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), hingga UMP Tower.

“Sambutan dan pelayanan yang diberikan jauh lebih baik dari apa yang kami bayangkan. Kami mengira hanya akan diperlihatkan kelasnya saja, ternyata kami diajak masuk ke berbagai ruangan dan dikenalkan dengan banyak fasilitas kampus,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Dekan III FKIP UMP menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman pertama FKIP UMP menerima rombongan dari Bustanul Athfal (BA), sekaligus menjadi bukti bahwa kampus terbuka sebagai ruang belajar bagi semua jenjang pendidikan.

“Baru kali ini FKIP UMP menerima kunjungan dari BA. Namun pengalaman pertama ini menunjukkan bahwa FKIP terbuka terhadap kunjungan dari semua jenjang pendidikan, dari TK hingga perguruan tinggi, untuk tujuan pembelajaran,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kunjungan tersebut anak-anak diperkenalkan secara langsung pada aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi agar tumbuh kecintaan terhadap ilmu sejak usia dini.

“Anak-anak hari ini belajar melalui pengalaman nyata tentang aktivitas pembelajaran orang dewasa di perguruan tinggi dengan berbagai fasilitasnya, dengan harapan mereka memiliki kecintaan terhadap ilmu dan semangat belajar sepanjang hayat,” pungkasnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen UMP dalam menghadirkan pengalaman pendidikan yang inklusif, inspiratif, dan menyenangkan bagi masyarakat, termasuk anak-anak usia dini. (Chy)

PBSI UMP Perluas Jejaring Akademik Lewat Kunjungan ke BIM University Bali

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melaksanakan kunjungan akademik ke BIM University Bali pada Rabu, 20 Mei 2026 lalu. Kunjungan yang dilaksanakan di Auditorium BIM University, Denpasar, Bali tersebut diisi dengan kegiatan Seminar Entrepreneurship dan studi banding yang diikuti oleh dosen serta mahasiswa PBSI FKIP UMP bersama Bali.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam bidang kewirausahaan, mempererat hubungan antarlembaga pendidikan tinggi, serta memberikan pengalaman akademik secara langsung melalui kegiatan diskusi dan pertukaran informasi mengenai pengelolaan pendidikan di perguruan tinggi.

Acara diawali dengan sambutan dari Sekretaris BIM University Bali, Bapak Zaky Ridwan, yang menyampaikan apresiasi atas kunjungan akademik dari PBSI FKIP UMP. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam membangun sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan mampu bersaing di era global.

“Kami menyambut baik kunjungan akademik dari PBSI FKIP UMP. Semoga kegiatan ini dapat menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran wawasan yang bermanfaat bagi kedua institusi, khususnya dalam pengembangan kompetensi mahasiswa,” ujar Zaky Ridwan saat menyambut rombongan PBSI UMP.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kaprodi PBSI FKIP UMP Akhmad Fauzan, M.Pd. yang menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari BIM University Bali serta harapan agar kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama akademik di masa mendatang.

“Kegiatan seperti ini sangat penting bagi mahasiswa karena tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mendapatkan wawasan baru mengenai dunia kewirausahaan, budaya akademik, dan jejaring antarkampus,” ungkap Akhmad Fauzan, M.Pd.

Pada sesi seminar, peserta mendapatkan materi dari Carnaval Rego Rio Sidabutar, S.Par., M.M. dari BIM University Bali yang membahas pentingnya entrepreneurship bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, sebagai bekal menghadapi tantangan dunia kerja dan industri kreatif.

 Selain itu, Dr. Onok Yayang Pamungkas, M.Pd. dari PBSI Universitas Muhammadiyah Purwokerto turut memberikan materi mengenai pengembangan kreativitas, kemampuan komunikasi, dan penguatan karakter akademik mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dunia pendidikan. 

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dengan narasumber. Selain seminar, mahasiswa PBSI FKIP UMP juga melaksanakan studi banding untuk memperoleh wawasan mengenai budaya akademik, sistem pembelajaran, serta pengembangan program di BIM University Bali.

Melalui kegiatan ini, Akhmad Fauzan M.Pd. selaku Kaprodi PBSI FKIP UMP berharap dapat meningkatkan kualitas. akademik mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dengan BIM University Bali dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan kewirausahaan. (dya)

Dosen UMP Raih SINTA Score Tertinggi di PTMA

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Salah satu dosen terbaiknya, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, tercatat sebagai dosen dengan SINTA Score tertinggi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dengan capaian skor 48.656, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Diktilitbang Muhammadiyah.

Capaian ini menempatkan UMP di posisi teratas dalam daftar Top 20 Dosen PTMA dengan SINTA Score Tertinggi, mengungguli berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya di Indonesia. Prestasi tersebut menjadi indikator kuat atas konsistensi UMP dalam membangun budaya akademik yang unggul, khususnya dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, dan kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

SINTA (Science and Technology Index) sendiri merupakan sistem pengukuran kinerja akademik yang digunakan untuk menilai produktivitas riset dosen berdasarkan publikasi ilmiah, sitasi, jurnal terindeks, serta berbagai indikator akademik lainnya. Posisi puncak yang diraih UMP menunjukkan kekuatan institusi dalam membangun ekosistem riset yang produktif dan berkelanjutan.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMP, Prof. Dr. Sri Wahyuni, S.E., M.Si., QIA, menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari komitmen jangka panjang universitas dalam memperkuat kualitas penelitian dosen.

“Prestasi ini bukan sekadar capaian individu, tetapi mencerminkan budaya akademik yang terus kami bangun di UMP. Kami mendorong dosen untuk aktif melakukan riset yang berdampak, menghasilkan publikasi berkualitas, serta memperluas jejaring akademik nasional maupun internasional,” ujarnya saat dikonfirmasi di Purwokerto, Jumat (22/5/26).

Menurutnya, capaian tersebut juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah mampu bersaing di level nasional jika memiliki komitmen kuat terhadap mutu akademik.

“UMP terus bertransformasi menjadi universitas riset yang produktif. Kami percaya bahwa kekuatan perguruan tinggi terletak pada kualitas intelektual para dosennya. Karena itu, penguatan riset menjadi salah satu prioritas utama kami,” tambahnya.

Prestasi Prof. Sugeng Priyadi sekaligus mempertegas posisi UMP sebagai salah satu PTMA dengan produktivitas akademik tertinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, universitas ini terus menunjukkan tren positif dalam publikasi ilmiah, peningkatan jumlah penelitian, hingga penguatan kolaborasi lintas institusi.

Keberhasilan ini juga sejalan dengan visi UMP untuk menjadi perguruan tinggi unggul yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat, serta kemajuan bangsa.

Dengan capaian tersebut, UMP tidak hanya mengharumkan nama institusi, tetapi juga menunjukkan bahwa ekosistem akademik Muhammadiyah terus berkembang menjadi kekuatan penting dalam peta pendidikan tinggi Indonesia.(tgr)

Mahasiswa PBA UMP Raih Juara 1 Al-Insya Al-Arabi Tingkat Internasional

Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto kembali menorehkan prestasi dalam ajang lomba Internasional dan Nasional dalam ajang AFKAR (Academic Forum on Knowledge and Arabic Education) yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo pada 20–27 April 2026.

Ayyas Abdulkarim Asdi mahasiswa PBA angkatan 2025/2026 telah berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba  Al-Insya Al-Arabi Tingkat Internasional, dengan judul esai: “Tathwir Ta’lim Al-Lughah Al-Arabiyah Fil ‘Ashri Ar-Raqmi: At-Tahaddiyat wal Furoshu”.

Begitu juga Haidar Hakim Ibrahim Mahasiswa PBA angkatan 2025/2026 berhasil membawa hadiah Juara Harapan 1 Lomba “Al-Khitobah” Tingkat Nasional, dengan judul teks “Al-Istiratijiyyah Al-Mubtakirah Lisy-Syabab Fi Tathwir Ad-Da’wah Al-Islamiyah Abra Al-‘Ilam Ar-Raqmi”.

Prestasi keduanya diraih dalam ajang AFKAR (Academic Forum on Knowledge and Arabic Education) yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo pada 20–27 April 2026.

“Kami sangat terharu sekaligus bangga atas prestasi kedua mahasiswa kita, yang telah meraih juara 1 dalam lomba Esai berbahasa Arab dan juara harapan 1 lomba pidato bahasa Arab, prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Prodi PBA mampu bersaing dalam kancah nasional maupun internasional, serta sangat mumpuni dalam kemampuan bahasa Arab mereka.”, ungkap Muhammad Asdi Nurkholis, S.Pd.I., B.Ed., M.Pd. Kaprodi PBA UMP.

Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berkarya, berprestasi, dan mengharumkan nama UMP di tingkat nasional maupun internasional. (Asd)

Saat Kampus Tunduk pada Pasar

WACANA terbaru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco pada acara symposium di Bali akan menutup sejumlah program studi (prodi) dengan dalih tidak relevan terhadap pasar kerja dan tiap tahun kampus meluluskan 1,9 juta sarjana tetapi banyak yang “nganggur”. Pernyataan ini memicu diskursus serius di ruang publik. Secara sekilas, wacana ini tampak sebagai langkah pragmatis-administratif yang heroik: menyelamatkan anak muda dari jurang pengangguran terdidik. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau analisis pendidikan demokrasi dan inovasi ekosistem, kebijakan ini justru menyimpan cacat logika yang berisiko mematikan nalar kritis bangsa.

Standarisasi yang Merepsesi Keberagaman

Pendidikan tinggi bukanlah pabrik yang bisa dengan mudah menghentikan lini produksi hanya karena pesanan barang tertentu sedang menurun atau hanya sekedar ingin membahagiakan dunia industri. Memposisikan universitas semata-mata sebagai “pemasok tenaga kerja” adalah pengkerdilan makna pendidikan. Dalam perspektif demokrasi, universitas adalah laboratorium kewarganegaraan. Ketika negara menganggap lulusannya tidak match dengan industri atau dianggap tidak lincah mengejar algoritma pasar, kita sebenarnya sedang melakukan standardisasi pemikiran.

Dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan operator mesin atau pembuat kode, tetapi juga individu yang memahami etika, sejarah, dan dinamika sosial. Inovasi tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari persinggungan berbagai disiplin ilmu. Menutup prodi tanpa upaya revitalisasi adalah bentuk kegagalan negara dalam mengelola kekayaan intelektualnya.

Menggugat Absennya Inovasi Ekosistem

Pandangan kritis saya bermuara pada satu titik: mengapa Kemdiktisaintek lebih memilih opsi “terminasi” daripada “transformasi”? Penutupan prodi mencerminkan kemalasan berpikir dalam membangun ekosistem. Seharusnya, kementerian hadir sebagai arsitek yang membangun jembatan (linkage) antara prodi dengan realitas dunia kerja baru.

Inovasi ekosistem yang saya tawarkan bukanlah sekadar link and match yang selama ini digelorakan secara superfisial. Ekosistem yang ideal harus berbasis pada tiga pilar:

Hibridasi Keilmuan (Transdisipliner): Semisal alih-alih menutup prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau Hukum, mengapa tidak mendorong prodi tersebut bertransformasi menjadi pusat studi Kewarganegaraan Digital atau Cyber Law? Ekosistem harus memungkinkan kurikulum bersifat elastis, di mana mahasiswa memiliki ruang untuk melakukan desain thinking dalam menyelesaikan masalah sosial di lapangan kerja.

Sinyal Pasar yang Demokratis: Kemdiktisaintek seharusnya membangun platform data besar yang transparan. Selama ini, kampus seringkali “buta” terhadap kebutuhan industri karena tidak ada kanal informasi yang terintegrasi. Ekosistem harus menyediakan navigasi bagi prodi untuk melakukan adaptasi, mengubah haluan tanpa harus membubarkan institusi.

Kemitraan Berbasis Resiliensi: Dunia kerja tidak statis. Prodi yang dianggap “tidak relevan” hari ini bisa jadi merupakan kunci stabilitas sosial di masa depan. Ekosistem harus memberikan insentif bagi prodi yang berani berinovasi menciptakan lapangan kerja baru (job creators), bukan sekadar mencetak pengikut pasar (job seekers).

Isolasi Intelektual dan Ancaman Demokrasi

Ketika kebijakan pendidikan hanya mengukur relevansi melalui kacamata pasar jangka pendek, kita sebenarnya sedang memicu isolasi intelektual yang sistemik. Penutupan prodi atas nama efisiensi bukanlah sekadar langkah administratif, melainkan bentuk penyempitan cakrawala nalar yang memaksa akademisi dan mahasiswa terkurung dalam ruang gema (echo chamber) pragmatisme. Dalam ruang kedap ini, daya kritis terhadap realitas sosial melemah, sementara keberagaman perspektif yang merupakan oksigen bagi demokrasi yang digantikan oleh narasi tunggal yang memuja teknokrasi semata, memisahkan menara gading kampus dari denyut nadi peradaban yang seharusnya mereka kritisi.

Isolasi intelektual ini adalah bom waktu bagi demokrasi kita, tanpa dialektika disiplin ilmu yang luas, masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara informasi substansial dan propaganda digital. Ketidakmampuan untuk merajut hubungan lintas disiplin menciptakan “buta aksara” kewarganegaraan, di mana polarisasi merajalela karena tidak ada ruang untuk perdebatan yang beradab. Mahasiswa hanya akan dididik untuk menjadi sekrup dalam mesin kapitalisme digital, kehilangan sensitivitas terhadap nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial. Padahal, di tengah gempuran disinformasi dan polarisasi, peran prodi yang berbasis pada penguatan karakter dan kewarganegaraan justru menjadi benteng terakhir resiliensi bangsa.

Oleh karena itu, membangun ekosistem pendidikan yang terbuka bukan sekadar opsi, melainkan imperatif demokratis untuk memastikan bahwa nalar kritis tetap hidup, menjadi benteng terakhir melawan otoritarianisme informasi dan dehumanisasi di era disrupsi.

Dari Vonis Menuju Inkubasi

Kebijakan Kemdiktisaintek seharusnya bergeser dari peran sebagai “hakim algojo” menjadi “fasilitator inkubasi”. Menutup prodi adalah jalan pintas yang mengabaikan tanggung jawab konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh.

Jika kementerian memiliki kemauan politik untuk berinovasi, mereka akan melihat prodi-prodi yang lesu tersebut sebagai aset yang perlu direvitalisasi melalui suntikan teknologi, akses jaringan industri, dan pendanaan berbasis kinerja inovasi. Kita butuh ekosistem yang menghidupkan, bukan regulasi yang mematikan.

Pendidikan demokrasi mengajarkan kita bahwa partisipasi dan keberagaman adalah kekuatan. Maka, pendidikan tinggi kita pun harus mencerminkan hal yang sama: sebuah ekosistem yang beragam, inklusif, dan adaptif, di mana tidak ada satu pun tunas ilmu pengetahuan yang dibiarkan mati hanya karena ia tidak segera menghasilkan buah ekonomi di mata pasar. (*)

PG PAUD UMP Hadirkan Dosen BukSU Filipina, Bahas Implementasi Pendidikan Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

PURWOKERTO – Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto menggelar kegiatan International Guest Lecturer pada Selasa (14/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang F.04 itu menghadirkan akademisi dari Bukidnon State University (BukSU) Filipina, Jesse James G. Gellor Jr.

Kuliah tamu yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut diikuti mahasiswa PG PAUD dan PGSD. Tema yang diangkat berfokus pada implementasi program inklusi dalam pendidikan anak usia dini, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Kaprodi PG PAUD UMP, Dr. Labib Sajawandi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama internasional UMP secara umum, dan secara khusus antara PG PAUD UMP dengan BukSU Filipina.

“Beliau kami datangkan karena memiliki kepakaran di bidang special education, khususnya pendidikan anak usia dini untuk anak berkebutuhan khusus. Program inklusi ini terus berkembang, sehingga kita perlu banyak belajar dari para ahli, termasuk dari Filipina,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kuliah tamu ini mahasiswa tidak hanya memahami implementasi pendidikan inklusi di Indonesia, tetapi juga mendapatkan perspektif global.

“Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada mahasiswa PG PAUD dan PGSD tentang bagaimana implementasi program inklusi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Filipina,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Kerja Sama, Riset, dan Inovasi FKIP UMP, Feisal Aziez, Ph.D., menyebut kegiatan tersebut sebagai momentum penting dalam penguatan wawasan pendidikan.

Menurutnya, talkshow internasional seperti ini memiliki potensi besar untuk memperkaya pemahaman mahasiswa, terutama dalam isu-isu strategis pendidikan.

“Ini kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pakarnya. Silakan aktif bertanya dan berdiskusi sesuai fokus di bidang pendidikan, khususnya terkait pendidikan inklusi,” ungkapnya saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.

Ia pun menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Jesse James G. Gellor Jr., seraya berharap mahasiswa dapat menyerap ilmu dan pengalaman yang dibagikan.

Kegiatan International Guest Lecturer ini menjadi bagian dari upaya FKIP UMP dalam memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas akademik mahasiswa melalui kolaborasi lintas negara. 

Pemenang Lomba Video Pendek & Poster Tingkat SMA/Sederajat

Buka Wawasan Pendidikan Internasional, Mahasiswa PBI UMP Nadia Nariswari Putri Ikuti Student Mobility di Malaysia.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Nadia Nariswari Putri, berhasil mengikuti Student Mobility Program di INTI International University, Malaysia, pada periode Januari hingga Mei 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pengembangan wawasan akademik serta peningkatan pengalaman internasional bagi mahasiswa.

Nadia mengaku sangat bersyukur atas kesempatan yang ia dapatkan. Menurutnya, pengalaman mengikuti program internasional tersebut membuka pandangan baru bahwa pendidikan tidak terbatas hanya di satu tempat.

“Alhamdulillah saya merasa sangat bersyukur dan bangga, karena ternyata pendidikan tidak terbatas di UMP saja. Saya juga senang bisa menjadi yang pertama dari PBI mengikuti program ini, dengan harapan bisa menjadi acuan bagi teman-teman atau adik tingkat yang nantinya ingin mengikuti program yang sama. Setidaknya saya bisa memberi gambaran dan motivasi untuk mencoba seleksinya,” ungkap Nadia.

Ia juga menuturkan bahwa mengikuti Student Mobility Program menjadi pengalaman berharga, terutama dalam belajar hidup mandiri di negara lain serta memperoleh perspektif baru dalam dunia pendidikan.

“Perkuliahan di Malaysia sangat berbeda, baik dari segi etika maupun materi. Motivasi mahasiswa juga tinggi sehingga mau tidak mau kita harus bisa mengimbangi, terutama saat diskusi di kelas,” jelasnya.

Selain itu, Nadia menilai pengalaman belajar di INTI International University dapat membuka peluang yang lebih luas bagi kariernya di masa depan. Lingkungan akademik internasional dinilai mampu menjadi bekal penting untuk pengembangan diri serta meningkatkan profesionalitas.

Dodi Siraj Mu’amar Zain, Ph.D. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMP turut menyampaikan apresiasi dan dukungan atas capaian mahasiswa yang mengikuti program internasional tersebut.

“Sebagai Ketua Program Studi, saya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang saat ini mengikuti program student exchange di INTI International University, Malaysia. Partisipasi mahasiswa dalam program pertukaran pelajar internasional merupakan langkah strategis dalam memperluas wawasan akademik, meningkatkan pengalaman lintas budaya, serta memperkuat kompetensi global yang sangat dibutuhkan di era pendidikan yang semakin terhubung secara internasional,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa program tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan lingkungan akademik yang berbeda, memahami perspektif pendidikan global, serta mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi dalam konteks multikultural.

“Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kesiapan untuk berkontribusi dalam komunitas global,” tambahnya.

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMP secara konsisten mendukung keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program internasional, termasuk student exchange, kolaborasi akademik, dan kegiatan pembelajaran lintas negara. Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen program studi untuk memberikan global exposure kepada mahasiswa sekaligus membangun daya saing lulusan yang kuat, adaptif, dan mampu berkontribusi dalam perkembangan pendidikan di tingkat nasional maupun internasional. (Chy)

Juara 2 MTQ Se-Pulau Jawa Cabang Tahfidzul Qur’an Kategori 5 Juz Tahun 2026

kepada Ayyas Abdulkarim Asdi atas prestasinya meraih Juara 2 MTQ Se-Pulau Jawa Cabang Tahfidzul Qur’an Kategori 5 Juz Tahun 2026 🥈

Prestasi ini diraih oleh mahasiswa semester 2 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Barakallāh fīk, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dalam setiap langkah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupan. 📖🤍

HMPSPBAUMP #PBAUMP #PrestasiMahasiswa #MTQ2026

The Power of Basmalah

Oleh: Desi Endah Lestari

(Alumni PG PAUD UMP)

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, sangat penting untuk mengkaji kembali nilai dan makna penting basmalah sebagai bentuk fondasi dan penyandaran diri kepada Allah SWT. Terutama dalam bulan suci Ramadan, di mana umat muslim melakukan ibadah puasa sejak terbit hingga terbenam matahari.

Selain puasa, bulan ini juga merupakan waktu dalam meningkatkan ibadah sunah baik itu shalat sunah tarawih, membaca Al-Qur’an, serta mengamalkan amalan lain yang dianjurkan di bulan mulia ini. Di tengah rutinitas ibadah yang meningkat di bulan Ramadan, penting bagi kita untuk kembali memahami makna Basmalah.

Selama ini kita memulai segala sesuatu dengan mengucap “Bismillah” atau “Bismillahirrahmanirrahim”. Saking terbiasanya kita tidak sadar akan makna kalimat yang menyimpan esensi begitu sangat mendalam. Basmalah memiliki dampak positif dalam membentuk kesadaran spiritual seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari. Tentang makna mengingat lewat satu kalimat yang mampu menggerakkan kompas moral (nurani) ke arah yang tepat.

Dalam Al-Qur’an surah An-Naml ayat 30, Allah SWT menerangkan kisah tentang Nabi Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Balqis yang disampaikan burung hud-hud. Terjemahan ayat itu, “Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulaiman yang isinya (berbunyi,) ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.’”

Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Mardawaih dari Buraidah terkait ayat tersebut, Rasulullah SAW menerangkan, “Telah diturunkan kepadaku satu ayat yang tidak pernah diturunkan kepada seorang Nabi pun selain Nabi Sulaiman dan aku, yaitu Bismillahirrahmanirrahiim.”

Utsman bin Affan pernah bertanya tentang makna basmalah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sesungguhnya ia adalah salah satu dari nama-nama Allah yang agung, begitu dekatnya basmalah dengan nama Allah, seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.”

Basmalah bukan sekadar lafaz pembuka dalam ucapan maupun tulisan, melainkan mengandung nilai-nilai tauhid, keikhlasan, adab, dan ibadah. Pengucapannya menjadi bentuk penyadaran diri akan Allah serta sebagai sarana untuk menghubungkan aktivitas duniawi dengan nilai-nilai keagamaan yang mendatangkan keberkahan, terutama pada bulan Ramadan yang penuh berkah serta ampunan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ أَمْرِ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ فِيهِ بِـ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

Artinya: “Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan ‘Bismillahirrahmanirrahîm’, maka amal tersebut terputus (keberkahannya).” (HR. Al-Khațīb dalam al-Jāmi’, dari jalur ar-Rāhawaih dalam al-Arba’in, dan as-Subkī dalam Tabaqāt).

Hadis ini memiliki kalimat yang sangat singkat namun bermakna sangat mendalam. Saking pentingnya, Allah membuka firman-Nya di dalam Al-Qur’an dengan kalimat ‘Bismillahirrahmanirrahim’. Sejak awal diturunkannya wahyu Allah yaitu Al-Qur’an, Allah mengawali wahyu-Nya dengan basmalah. Ini menunjukkan pentingnya memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Allah.

Dalam Islam, pembukaan dengan bismillah adalah bentuk permohonan pertolongan (isti’nah) kepada Allah sekaligus bentuk berserah diri dan memasrahkan hasil kepada Allah (Shihab, 2000).

Dengan membiasakan diri di bulan Ramadan memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Allah, seorang hamba akan selalu mengaitkan niat, usaha, dan hasil kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkan nilai ibadah dalam seluruh aspek hidupnya.

Bismillah merupakan bentengnya orang-orang mindful. Mindful itu orang-orang yang bisa hadir secara utuh, penuh, dan sungguh-sungguh dalam pekerjaan mereka dan amanah-amanah lain yang diberikan kepada mereka. Dan ini konsekuensinya bahwa perbuatan kita akan dilihat serta dipertanggungjawabkan bukan saja ke manusia, dan ini merupakan salah satu penjagaan terhadap diri kita.

Apa-apa yang tidak bisa kau mulai dengan Bismillah jangan kau teruskan. Ada hal-hal yang tidak mungkin dimulai dengan bismillah, contoh saat berbohong dan orang mencuri. Nalar dan nurani pasti akan menentang akan hal itu. Jadi dengan sendirinya perilaku kita akan terfilter dan benar-benar kita punya kendali atas diri kita karena kita yakin kepada Allah dengan mengucap Bismillah sampai dengan hasil terserah kepada Allah.

Pada akhirnya baik dan buruk terserah kepada-Nya dan kita akan memiliki ketenangan di dalamnya.