Archive for year: 2025
Mahasiswa Prodi Sejarah UMP Terbitkan Buku “Geliat Asia Selatan” Jelang Berangkat KKN
/in Berita/by FKIP
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Angkatan 2022 berhasil menerbitkan buku bunga rampai bertema sejarah Asia Selatan berjudul Geliat Asia Selatan dalam Tulisan: dari Awal Peradaban Hingga Era Pergerakan. Buku ini menghimpun karya tulis mahasiswa yang membahas perjalanan sejarah kawasan Asia Selatan, mulai dari peradaban Mohenjo Daro dan Harappa, era Hindu-Buddha, masa penyebaran Islam, hingga perjuangan kemerdekaan dari penjajahan Barat.
Menariknya, seluruh proses penulisan hingga penerbitan buku dilakukan langsung oleh mahasiswa. Kuntum Fitriana, salah satu penulis yang juga pernah mengikuti program SEA Teacher ke Filipina, mengaku bangga dengan pencapaian ini.
“Rasanya senang karena ini pengalaman pertama menerbitkan buku. Kami jadi tahu bagaimana prosedur penerbitan, mulai dari menulis, mencari penerbit, hingga proses ISBN yang ternyata memakan waktu lama,” ujarnya saat dikonfirmasi di Purwokerto, Kamis (14/8).
Koordinator penyusunan buku, Shafa Dzikrina, mengungkapkan perjalanan penerbitan buku ini penuh tantangan. Awalnya mereka dijanjikan ISBN akan terbit dalam sebulan, namun kenyataannya proses memakan waktu hingga setahun.
“Awalnya dijanjikan satu bulan, tapi sampai lima bulan kami sudah pasrah. Ternyata setahun kemudian penerbit menghubungi dan ISBN terbit. Jadi ini momen yang sangat membahagiakan,” katanya yang kini tengah mengikuti KKN di Banjarnegara.
Tradisi menulis buku sudah menjadi bagian dari kultur akademik di Prodi Pendidikan Sejarah UMP. Karya mahasiswa ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengikuti jejak para dosen berprestasi seperti Prof. Sugeng Priyadi, Asep DK, Arifin Suryo, dan Ipong Jazimah, yang karyanya telah banyak beredar di toko buku nasional.
Shafa berharap terbitnya buku ini dapat memotivasi mahasiswa angkatan berikutnya untuk berkarya.
“Harapannya adik-adik terinspirasi membuat buku, baik secara individu maupun kelompok,” pungkasnya.
Buku Geliat Asia Selatan dalam Tulisan resmi terbit pada Juli 2025, hanya beberapa hari sebelum para mahasiswa berangkat ke lokasi KKN masing-masing, menjadi kado manis sebelum mengabdi di masyarakat.(is/tgr)
Kolaborasi Cerdas: UMP dan SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga Resmi Jalin Kerja Sama Kembangkan Program Unggulan Keolahragaan
/in Berita/by FKIP
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di bidang ilmu keolahragaan, Program Studi Ilmu Keolahragaan (IKOR) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga. Kerja sama ini diinisiasi sebagai langkah konkret dalam mewujudkan sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah, terutama dalam membangun ekosistem pendidikan olahraga yang berkualitas, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan.
Ketua Program Studi Ilmu Keolahragaan FKIP UMP, Assoc. Prof. Dr. Yudha Febrianta, S.Pd Jas., M.Or., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kemitraan ini merupakan bentuk komitmen UMP dalam menjangkau generasi muda yang memiliki potensi di bidang olahraga, baik sebagai atlet, pelatih, maupun tenaga pendidik.
“Kami percaya bahwa pembinaan olahraga harus dimulai sejak dini dan berkelanjutan. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan akses yang lebih luas bagi siswa SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga untuk mengembangkan kompetensi keolahragaan sekaligus mempersiapkan mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Yudha menambahkan kerja sama ini meliputi berbagai program, mulai dari pendampingan pembelajaran berbasis sport science, pelatihan keterampilan olahraga, penguatan materi pendidikan jasmani, hingga pembinaan prestasi olahraga di tingkat sekolah maupun daerah. Selain itu, pihak UMP juga membuka peluang beasiswa dan jalur khusus penerimaan mahasiswa baru bagi lulusan SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga yang berprestasi di bidang olahraga.
Kepala SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga, Ibu apt. Nur Fitri Widiyanti, S.Si., mengapresiasi langkah IKOR FKIP UMP yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan sekolah.
Menurutnya, kerja sama ini akan membuka cakrawala baru bagi siswa, khususnya mereka yang memiliki minat di dunia olahraga, baik untuk berkarier sebagai atlet maupun profesional di industri keolahragaan.
“Kami merasa terhormat dapat bermitra dengan UMP. Selain mendapatkan pendampingan pembelajaran, siswa kami juga akan memperoleh kesempatan untuk mengenal langsung dunia perkuliahan di bidang olahraga. Hal ini tentu menjadi motivasi besar bagi mereka untuk berprestasi,” ujarnya.
Lebih lanjut Fitri menjelaskan pihak sekolah berharap program ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan jasmani di SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga dan mendorong lebih banyak siswa yang berprestasi di ajang kompetisi olahraga tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Nota kesepahaman yang ditandatangani mencakup berbagai poin penting, antara lain: Pengembangan Kurikulum Berbasis Sport Science, Pelatihan dan Sertifikasi, Praktik Lapangan dan Magang, Pembinaan Atlet Sekolah., Akses Beasiswa.
Rektor UMP yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Assoc. Prof. Saefurohman, P.hD., menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari visi UMP sebagai kampus unggul, modern, dan islami yang peduli terhadap perkembangan olahraga di daerah.
Kami ingin menjadi mitra strategis sekolah-sekolah di seluruh Banyumas Raya, termasuk Purbalingga. Dengan adanya kerja sama ini, kami yakin akan lahir generasi muda yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” jelasnya.
Selain itu, Saefurohman menambahkan pihak universitas juga akan mengirimkan dosen dan mahasiswa IKOR untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembinaan dan pengabdian masyarakat di lingkungan SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga.
Salah satu siswa kelas khusus Olahraga (KKO) yang merupakan program Unggulan Sekolah mengaku sangat antusias dengan adanya kerja sama ini. Menurutnya, kesempatan belajar langsung dari dosen dan mahasiswa IKOR FKIP UMP akan memberikan pengalaman baru yang berharga.
“Kami jadi lebih semangat latihan karena tahu ada peluang lanjut kuliah di bidang olahraga. Apalagi kalau ada pelatihan dan pendampingan dari kampus, pasti ilmunya lebih banyak,” ujarnya.
Setelah penandatanganan MoU, kedua pihak merencanakan sejumlah kegiatan yang akan dimulai pada semester mendatang, di antaranya: Workshop Sport Science untuk guru dan siswa, Pelatihan Kebugaran dan Tes Fisik, Program Pembinaan Atlet Potensial. Kerja sama antara Program Studi Ilmu Keolahragaan FKIP UMP dan SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga bukan hanya sekadar penandatanganan dokumen, melainkan langkah nyata dalam membangun sinergi pendidikan olahraga yang modern, inovatif, dan berkelanjutan.
Kaprodi IKOR FKIP UMP, Assoc. Prof. Dr. Yudha Febrianta, optimistis bahwa kemitraan ini akan menjadi awal yang baik untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan fisik, mental, dan karakter yang kuat. Pendidikan dan olahraga adalah dua hal yang saling melengkapi.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan olahraga di Purbalingga dan Indonesia pada umumnya, pungkasnya. (*)
Dari Banjarnegara ke Seoul: Nurbaety Lega, Alumni UMP yang Menginspirasi di Panggung Internasional
/in Berita/by FKIP
Di balik toga kelulusan dan senyum hangatnya, tersimpan semangat juang dan dedikasi luar biasa. Dialah Nurbaety Lega, alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) asal Banjarnegara angkatan 2020, yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional.
Nurbaety menjadi salah satu peserta terpilih dalam program prestisius “Youth Camp for ASEAN & Friend’s Engagement 2025” yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Korea di Seoul, Korea Selatan. Program ini menjadi wadah strategis untuk membentuk generasi muda yang aktif dalam diplomasi, kerja sama regional, dan pertukaran budaya lintas negara.
Keberhasilan Nurbaety mengikuti program internasional ini bukanlah kebetulan semata. Ia telah menunjukkan dedikasi yang konsisten selama masa studi, membangun kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang membentuk kepercayaan dirinya sebagai pemuda global.
“Ini adalah pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Tidak hanya menambah wawasan tentang hubungan antarbangsa, tetapi juga membuka mata bahwa pemuda dari daerah pun bisa punya peran besar di kancah internasional,” ungkap Nurbaety saat diwawancarai, Senin (4/8).
Pengalaman tersebut, menurutnya, bukan hanya soal prestise, tapi tentang tanggung jawab untuk berbagi inspirasi dan membuktikan bahwa kontribusi nyata dapat dimulai dari langkah kecil namun penuh semangat.
Pencapaian Nurbaety menjadi bukti bahwa alumni kampus daerah pun mampu bersinar dan bersaing di level global. Sosoknya kini menjadi inspirasi baru bagi mahasiswa dan generasi muda Indonesia, khususnya di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, untuk terus menggali potensi, berani bermimpi besar, dan menjangkau dunia dengan bekal ilmu dan karakter kuat.
Tingkatkan Eksistensi Global, Mahasiswa PBI UMP Siap Mengajar dan Magang di Thailand
/in Berita/by FKIP
Mahasiswa PGSD UMP Raih Emas Kumite di Kejuaraan Nasional Bhayangkara Eager 2025
/in Berita, Kejuaraan/by FKIP
FKIP UMP Jalin Kerja Sama Internasional dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur
/in Berita/by FKIP
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah internasional dengan menandatangani perjanjian kerja sama strategis bersama Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia.
Kolaborasi ini menandai langkah penting dalam upaya memperkuat mutu pendidikan, pertukaran akademik, dan pengembangan profesionalisme guru di level global.
Penandatanganan kerja sama dilakukan secara resmi oleh Dekan FKIP UMP, Dr. Elly Hasan Sadeli, dan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Friny Napasti, M.Pd., di hadapan jajaran pimpinan FKIP, dosen, serta perwakilan dari SIKL.
Momen ini sekaligus menegaskan komitmen kedua lembaga dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran lintas negara serta memperkuat jaringan akademik Indonesia di Asia Tenggara.
Kerja sama ini mencakup beragam aspek penting, mulai dari pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional untuk mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan mahasiswa FKIP UMP, pertukaran guru dan dosen untuk pengembangan pembelajaran inovatif, kolaborasi riset dan publikasi ilmiah, hingga penguatan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pendidikan global.
Dekan FKIP UMP, Dr. Elly Hasan Sadeli, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam penguatan mutu lulusan calon guru.
“Kerja sama dengan SIKL merupakan langkah strategis FKIP UMP dalam memperluas jaringan internasional dan meningkatkan kualitas lulusan calon pendidik. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman mengajar di luar negeri, tetapi juga memperkaya wawasan budaya mahasiswa kami,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SIKL, Friny Napasti, M.Pd., menyambut baik kolaborasi ini dan menggarisbawahi pentingnya sinergi antar lembaga pendidikan dalam menguatkan misi keindonesiaan di luar negeri.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini sebagai upaya mempererat hubungan pendidikan Indonesia-Malaysia. Kehadiran mahasiswa dan dosen UMP akan membawa dinamika baru dalam pengajaran di SIKL,” tuturnya.
Langkah ini juga sejalan dengan visi besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebagai universitas berdaya saing global yang terus memperluas kemitraan internasional, khususnya di bidang pendidikan.
Ke depan, FKIP UMP berkomitmen untuk menjalin lebih banyak kerja sama dengan institusi pendidikan luar negeri sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memperluas pengalaman internasional bagi dosen dan mahasiswa.
Dengan kolaborasi ini, FKIP UMP tidak hanya memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan pendidikan nasional, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk berkiprah dalam ekosistem pendidikan global yang inklusif, inovatif, dan kompetitif.(ehs/tgr)
Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam
/in Berita/by FKIP
Dr. Eko Muharudin, S.S., M.Pd.
Dosen Prodi PBSI, FKIP, UM Purwokerto
Di tengah hiruk pikuk isu dan fenomena sosial di negara ini, bulan Ramadan telah datang menyambangi rutinitas kehidupan. Rutinitas dan ritual (amaliah) bulan Ramadan di tengah-tengah masyarakat terasa semarak. Di masjid-masjid dan mushola penuh dengan berbagai aktivitas yang menggembirakan, seperti takjil, tarawih berjamaah, sahur bersama, dan kajian-kajian keislaman.
Sebagai muslim yang taat, Ramadan hendaknya tidak dimaknai sebuah rutinitas (kebiasaan) saja, tetapi dapat jugas untuk kegiatan penguatan literasi. Literasi menurut KBBI online (2024) memuat dua arti yakni kemampuan menulis dan membaca serta pengetahuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Literasi juga memiliki pengertian kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif untuk mengembangkan potensi dan dan berpartsipasi dalam kehidupan sosial (Alberta.ca., 2025).
Di bulan Ramadan ini, kesempatan untuk berliterasi secara mendalam bagi muslim jangan dilewatkan begitu saja. Seorang muslim harus menyadari bahwa Islam merupakan agama yang mendorong umatnya untuk melek literasi. Hal ini tidak lepas dari sejarah turunnya kitab suci Al-Qur’an. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat tentang motivasi untuk menuntut ilmu dengan perintah iqra’ (Q.S. Al-‘Alaq: 1).
Iqra’ dalam bahasa Indonesia dimaknai membaca. Menurut Umar (2016) iqra’ memiliki empat makna. Pertama, iqra’ dimaknai how to read, yakni sekedar membaca tanpa ada pemahaman, sebagai contoh orang yang membaca Al-Qur’an. Pembaca hanya membaca dengan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Akan tetapi, pembaca tidak paham makna yang sedang ia baca. Kedua, iqra’ bermakna how to learn. Makna tersebut mengajarkan bahwa membaca merupakan salah satu aktivitas belajar, sehingga seorang pembelajar dan pembaca harus memahami metode atau strategi belajar yang digunakan. Ketiga, iqra’ dimaknai how to understand. Tingkatan membaca yang ketiga ini tidak sekadar membaca, tetapi memahami apa yang dibaca.
Membaca kemudian memahami merupakan aktivitas yang melibatkan indra mata, hati dan pikiran, serta hati yang bersih. Hal ini akan membuat pembaca mudah memahami teks dan ayat-ayat Allah Swt. dalam Al-Qur’an yang memuat perintah, larangan, serta hikmah-hikmah yang mendalam. Sangat disayangkan apabila seorang muslim belum bisa memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang syarat dengan hikmah kehidupan. Memahami merupakan pijakan utama sebelum seseorang menerapkan suatu konsep dan gagasan. Setelah proses ini, seseorang akan dapat memilih, menentukan, dan mendemonstrasikan pemecahan masalah yang ada di sekitarnya (Bloom, 1956).
Momentum bulan Ramadan ini dapat dimanfaatkan oleh seorang muslim untuk lebih tekun mengkaji kadungan Al-Qur’an. Melalui kajian bersama di masjid-masjid, kampus, sekolah, serta komunitas kajian keislaman, seorang muslim dapat membiasakan dan mempertajam kegiatan literasi agar lebih bermakna. Dengan demikian, seorang muslim dapat memahami ayat-ayat Allah Swt. lebih mendalam. Hasil literasi ini dapat diterapkan dan implementasikan oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya, dengan pembiasaan literasi, seorang muslim dapat ikut berkontribusi membawa kebermanfaatan untuk diri dan lingkungan sekitar serta mengimplementasikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam. (17 Maret 2025). Diakses pada Maret 24, 2025 dari artikel: Ramadan: Bulan Literasi Umat Islam (disway.id)
Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah
/in Berita/by FKIP
Oleh: Desi Endah Lestari
Mahasiswa PG PAUD UMP
Bulan ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Di bulan ramadhan tentu saja setiap muslim menghindari segala maksiat agar puasanya tidak sia-sia, dan juga tidak terhindar dari lapar dan dahaga saja. Puasa yang dikehendaki adalah puasa yang penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT.
Di dalam berpuasa ada salah satu hadist yang populer dan sering kita dengar saat bulan suci ramadhan. Hadist yang menjelaskan keutamaan orang berpuasa, sampai-sampai tidurnya pun berstatus sebagai ibadah. Bahkan dikatakan ini merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Derajat hadist yang sebenarnya adalah hadits yang dho’if (lemah).. Berikut hadist yang menjelaskan tentang hal ini:
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipat gandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni” (HR Baihaqi).
Sehingga dengan penyampaian semacam ini, seringkali di kalangan masyarakat dipolitisir. Sebagai pembenaran orang-orang akhirnya bermalas-malasan lebih sering tidur dari pada melakukan ibadah di bulan ramadhan karena termotivasi dari hadist tersebut. Padahal pandangan semacam ini sangat keliru, ini sangat bertentangan dengan salah satu adab dalam menjalankan puasa yang tidak berkenankan memperbanyak tidur di saat siang hari.
Itensitas tidur terlalu banyak berkonotasi negatif karena identik dengan perilaku bermalas-malasan menyebabkan kelalaian. Sebagaimana para ulama biasa menjelaskan bisa mendapatkan pahala apabila diniatkan sebagai ibadah. Seperti untuk terhindar dari perbuatan maksiat. Faktor kelelahan saat berpuasa setelah melakukan berbagai macam pekerjaan, tidurnya diniatkan untuk istirahat agar fisik lebih bugar dan bersemangat dalam melakukan shalat malam dan melakukan amalan lainnya.
Hal yang sama juga diungkapan oleh Syekh Nawawi al-Bantani:
وهذا في صائم لم يخرق صومه بنحو غيبة، فالنوم وإن كان عين الغفلة يصير عبادة، لأنه يستعين به على العبادة
“Hadits ‘tidurnya orang berpuasa adalah ibadah’ ini berlaku bagi orang berpuasa yang tidak merusak puasanya, misal dengan perbuatan ghibah. Tidur meskipun merupakan inti kelupaan, namun akan menjadi ibadah sebab dapat membantu melaksanakan ibadah” (Syekh Muhammad bin ‘Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qul al-Hatsits, Hal. 66)
Dengan demikian, tidur saat berpuasa dapat disebut ibadah jika memenuhi kriteria, yang pertama tidur diniatkan untuk ibadah bukan bermalas-malasan, ingatlah ‘innamal a’malu bin niyaat” setiap amalan tergantung dari niatnya. Dan kedua tidak mencampuri ibadah puasa dengan perbuatan maksiat.
Semoga Allah menganugerahi kita semua di bulan suci ramadhan yang penuh berkah ini. Aamiin.
Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah. (12 Maret 2025). Diakses pada Maret 12, 2025 dari artikel: Keutamaan Orang Berpuasa: Sampai-sampai Tidurnya pun Berstatus Sebagai Ibadah (disway.id)
Categories
Archive
- Juni 2026
- Mei 2026
- April 2026
- Maret 2026
- Februari 2026
- Januari 2026
- Desember 2025
- November 2025
- Oktober 2025
- September 2025
- Agustus 2025
- Juli 2025
- Juni 2025
- Mei 2025
- April 2025
- Maret 2025
- Januari 2025
- Desember 2024
- November 2024
- Oktober 2024
- September 2024
- Agustus 2024
- Juni 2024
- Mei 2024
- April 2024
- Maret 2024
- Februari 2024
- Januari 2024
- Agustus 2023
- Juli 2023
- Mei 2023
- April 2023
- Maret 2023
- Februari 2023
- Oktober 2022
- September 2022
- Agustus 2022
- Juli 2022
- Juni 2022
- Februari 2022
- Desember 2021
- November 2021
- Oktober 2021
- September 2021
- Agustus 2021
- Juli 2021
- Juni 2021
- Mei 2021
- April 2021
- Maret 2021
- Februari 2021
- Januari 2021
- November 2020
- Juni 2020
- November 2016
- Oktober 2016
- September 2016








