Pengalaman Sari Hartati, Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Purwokerto Laksanakan Program Kampus Mengajar

Pengalaman Sari Hartati,

 Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Purwokerto Laksanakan Program Kampus Mengajar

“Saya banyak mendapatkan pengalaman baru dari program Kampus Mengajar yang difasilitasi oleh Kemdikbud. Salah satu pengalaman menarik yang saya dapatkan adalah tentang: Bagaimana cara mengelola emosional dengan baik, Mengapa demikian? Karena sejatinya kita sebagai mahasiswa harus membawa diri dengan baik, menjaga nama almamater juga memberi contoh yang baik, “ demikian dinyatakan oleh Sari Hartati, seorang mahasiswa dari prodi Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Purwokerto, berkaitan dengan kesannya mengikuti Program Kampus Mengajar.

Program Kampus Mengajar adalah salah satu program yang diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbudristek, dngan menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi, dan menjadi mitra guru dalam melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran. Selain itu, mahasiswa juga dapat berkontribusi dalam mendukung kepala sekolah melakukan efisiensi administrasi dan manajerial sekolah. Hal tersebut sesuai dengan kebijakan Kampus Merdeka yang mengizinkan mahasiswa untuk belajar di luar kampus.

Sebagai mahasiswa yang berasal dari prodi nonkeguruan, tentu saja Sari demikian ia biasa dipanggil, semula ada kebingungan untuk melaksanakan program di tempat ia ditugaskan. Ia kemudian berkonsultasi dengan Dra. Eko Sri Israhay, M. Hum., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Oleh DPL Sari disarankan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kebutuhan sekolah, misalnya saja berkaitan dengan pembuatan media pembelajaran. Selain berkonsultasi dengan DPL, Sari juga mendapat banyak bimbingan dari guru pamongnya.

Salah satu pengalaman yang mengesankan Sari adalah saat ia mengisi pelajaran prakarya di kelas enam. Ia memberi materi pembelajaran berupa pembuatan handsanitizer menggunakan bahan alami, yaitu  lidah buaya. Para siswa tampak senang dengan materi pembelajaran yang diberikan Sari. Melalui kegiatan tersebut Sari memberikan pengetahuan secara teori dan praktik berkaitan dengan pembuatan handsanitizer, yang cukup bermanfaat pada masa pandemi ini.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang ikut menghadapi situasi pelik dalam masa pendemi kali ini, banyak sekali tekanan dan beban mental yang harus dipikul mengingat penelitian yang Sari lakukan adalah kualitatif. Anehnya, pada program kali ini, ia merasa seluruh penat yang ia rasakan bisa hilang perlahan. Setiap pagi saat ia melihat guru-guru mempersiapkan materi bahan ajar sebelum memasuki kelas, melihat senyum siswa dengan riang menyambut pelajaran yang akan dibagikan oleh guru mata pelajarannya masing-masing, mendengar dan berbagi senda gurau dengan warga sekolah, hingga berbagi cerita pengalaman pribadi sehingga akhirnya guru-guru bisa sampai mengajar di SD Swasta Pelita Hati Kandis. Menurut Sari hal itu merupakan pengalaman hidup sekaligus cerita yang tidak bisa dibeli dengan rupiah.

Selain itu, banyak ilmu baru lain yang Sari juga belajar tentang cara mengelola administrasi dengan baik dan sistematis, menerapkan beberapa adaptasi teknologi seperti halnya pengelolaan gmail dan akun belajar siswa, menganalisis dan memberikan deskripsi terhadap jawaban ujian siswa. Hal tersebut menurut saya hal tidak akan ia dapatkan dari bangku perkuliahan.

Sari pun kemudian menceritakan bahwa pada awalnya ia mendaftarkan diri pada program Kampus Mengajar Batch 1 semata-mata demi mengisi waktu luang, karena nyatanya sampai saat ini perkuliahan masih berlangsung secara daring. Tapi di luar perkiraanya ternyata program ini memberikan banyak pelajaran hidup untuk dirinya. Salah satunya adalah hidup untuk bersyukur. Alhamdulillah, nyatanya seluruh usaha dalam menjalankan program mendapat sambutan baik dari Kemdikbud sendiri. Seperti halnya mahasiswa mendapat konversi mata kuliah sebanyak 12 sks, uang saku Rp. 1.200.000 setiap, juga mendapat beasiswa sebesar Rp. 2.400.000 dan yang paling ia nantikan adalah pemberian sertifikat nasional yang langsung ditandatangani oleh Menteri Pendidikan. (Yk)

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *