FKIP UMP Sesuaikan Kurikulum 11 Program Studi untuk Cetak Lulusan Kompeten dan Berdaya Saing

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang kompeten, inovatif, dan berdaya saing. Salah satunya dengan melakukan penyesuaian kurikulum pada 11 program studi, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dan perkembangan global.

Dekan FKIP UMP, Dr. Elly Hasan Sadeli, menjelaskan bahwa penyesuaian ini mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan sebagai ciri khas UMP.

“Penyesuaian kurikulum ini dilakukan untuk menjawab tantangan perubahan dunia pendidikan dan tuntutan industri 4.0. Kami ingin memastikan bahwa lulusan FKIP UMP siap menjadi pendidik yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” ungkap Dr. Elly Hasan Sadeli.

Dijhelaskan, sebanyak 11 program studi yang terlibat dalam penyesuaian kurikulum ini adalah Pendidikan Geografi, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Bahasa Arab, dan Pendidikan Profesi Guru.

“Kurikulum baru ini memberikan fleksibilitas kepada mahasiswa melalui berbagai program MBKM, seperti kesempatan mengambil mata kuliah di luar program studi, mengikuti program magang, penelitian, pertukaran mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.

Penyesuaian ini juga mengusung inovasi dalam pembelajaran, termasuk penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi Masa Depan yang fokus pada penguasaan teknologi pendidikan, keterampilan abad ke-21 (4C: komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas), serta pendidikan berbasis lingkungan hidup (Green Education). Selain itu, model pembelajaran hybrid dan program sertifikasi seperti TESOL dan STEM Teaching Certification juga menjadi bagian dari kurikulum baru.

“FKIP UMP berharap melalui langkah ini, para lulusan tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. Upaya ini sejalan dengan visi UMP untuk menjadi universitas yang unggul, modern, dan Islami,” pungaksnya.(ehs/tgr)

AJARKAN PESAN MORAL PADA KHALAYAK LUAS: PGSD UMP GELAR PERTUNJUKAN TARI DAN DRAMA

Pentas Drama dan Tari yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Kamis, 19 Desember 2024 lalu merupakan sebuah agenda yang dilaksanakan dalam rangka gelar karya mahasiswa Semseter 5 PGSD UMP pada mata kuliah Pendidikan Sendi Tari dan Drama kelas A, B, C, D, serta mata kuliah Keterambilan Tari yang diikuti oleh mahasiswa semester 7 kelas A dan B.

Gelar karya yang mengambil tema budaya nusantara yang sekaligus dijadikan satu dengan ujian praktik semester gasal tahun ajaran 2024/2025 ini bersifat terbuka untuk umum, dan dilaksanakan di Aula Syamsuhadi Irsyad. Pentas seni yang bersifat dapat dilihat oleh umum ini dihadiri oleh 400 penonton yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SD di Kabupaten Banyumas, Guru SD, orang tua wali, dan juga rekan sesama mahasiswa.

“Gelar project kraetivitas berkarya drama dan tari juga sebagai media pembelajaran sekaligus apresasi bagi siswa sekolah dasar untuk mengenal pesan moral kebaikan yang ditampilkan dalam bentuk drama atau cerita dongeng nusantara.” Terang Okto Wijayanti, M.A., selaku pengampu mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama.

Tarian dan drama yang dipentaskan juga beragam, mulai dari tari Sungai Kawat yang berasal dari Kalimantan Barat, Timun Mas dari Jawa Tengah, Kerbau Kicak dari Jawa Timur, Malin Si Anak Durhaka dari Sumatera Barat, Kemuning dari Jawa Timur, hingga Bertha dan Cendrawasih dari Papua.

Agenda yang dimulai pada pukul 07.30 waktu setempat diharapkan bisa menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa untuk menjadi seorang aktor dan aktris, sutradara, maupun tim kreatif lainnya yang terlibat dalam pementasan.

“Mahasiswa dapat mengajarkan pesan moral kebaikan yang terdapat dalam drama dongeng Nusantara kepada anak didiknya kelak setelah lulus dan menjadi guru.” Tambah Okto dosen PGSD itu.

Lebih lanjut, harapan dari Okto Wijayanti untuk tahun 2025 adalah bisa menarik jangkauan yang lebih luas lagi. Sebab adanya pentas semacam ini selain menjadikan mahasiswa PGSD memiliki pengalaman dalam industri kreatif terutama pementasan yang dapat digunakan untuk bekal mengajar esok, pentas budaya serupa juga dapat menjadi media pembelajaran bagi siswa-siswi SD, juga guru SD untuk mengambil pesan moral dari tarian maupun drama yang dipentaskan.

Kaprodi PGSD, Aji Heru Muslim, M.Pd., juga mendukung kegiatan tersebut sebagai media promosi memperkenalkan PGSD UMP, sebagai calon guru yang dapat mempersiapkan kemampuan menggelar projek yang tersirat pesan moral dan bermanfaat bagi anak usia dasar.

AJARKAN PESAN MORAL PADA KHALAYAK LUAS: PGSD UMP GELAR PERTUNJUKAN TARI DAN DRAMA. (6 Januari 2025). Diakses pada Januari 21, 2025 dari artikel: retizen.republika.co.id/posts/502868/ajarkan-pesan-moral-pada-khalayak-luas-pgsd-ump-gelar-pertunjukan-tari-dan-drama

Tim Pengabdian Prodi Pendidikan Sejarah UMP Edukasi Sejarah dan Telusuri Situs Bersejarah di Banyumas

Tim Pengabdian dari Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menyelenggarakan kegiatan Edukasi Sejarah dan Penelusuran Situs Sejarah di tiga situs bersejarah Kabupaten Banyumas. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (8/12/2024) ini merupakan hasil kolaborasi antara UMP, Banjoemas Institute (BI), MGMP Sejarah SMA-MA Banyumas, dan Banjoemas History Heritage Community (BHHC).

Kegiatan yang didanai LPPM UMP ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para guru sejarah mengenai pemanfaatan sumber belajar dari peninggalan sejarah dan cagar budaya di Banyumas. Tiga situs yang menjadi fokus kegiatan ini adalah Situs Tamansari, Situs Datar, dan Situs Lembu Ayu.

Ketua Tim Pengabdian, Sumiyatun Septian, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemanfaatan potensi cagar budaya sebagai sumber belajar. “Banyaknya peninggalan sejarah di Banyumas dari berbagai periode seperti Prasejarah, Hindu-Buddha, Kolonial, hingga Islam, perlu dioptimalkan untuk kegiatan edukasi sejarah bagi guru dan siswa,” ungkap Sumiyatun.

Kegiatan ini diawali dengan diskusi daring bersama Sujatmiko Wicaksono, M.Sn., Founder BHHC, yang memaparkan pentingnya pemanfaatan arsip-arsip tua Banyumas untuk penelitian ilmiah dan penulisan karya sejarah. Sujatmiko juga mengungkapkan peran BHHC dalam melakukan penelusuran situs sejarah serta penyelenggaraan pameran arsip di wilayah Banyumas.

Kunjungan pertama dilakukan di Situs Tamansari Karanglewas. Rombongan disambut oleh Burhanuddin, Kepala Desa setempat. Dalam pemaparannya, sejarahwan Banyumas sekaligus Ketua Banjoemas Institute, Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum., menjelaskan asal-usul Situs Tamansari sebagai bagian dari cikal bakal Pasir Luhur dan kisah Raden Kamandaka.

“Generasi muda Banyumas perlu lebih mengenal situs Tamansari ini. Sayangnya, lokasi yang agak terpencil masih menjadi tantangan. Perlu upaya promosi yang lebih intens melalui media sosial dan dukungan institusi terkait,” ujar Prof. Sugeng.

Kegiatan berlanjut ke Situs Datar di Kecamatan Sumbang. Tim pengabdian dan peserta disambut oleh pengelola setempat, Karsinah. Di lokasi ini, diskusi berlangsung santai namun produktif, membahas peninggalan berupa batu peringatan dan tempayan batu yang berasal dari masa Megalitikum.

Kunjungan terakhir dilakukan di Situs Lembu Ayu di Desa Susukan, Sumbang. Situs ini dikenal memiliki peninggalan Lingga-Yoni dan replika patung lembu yang mencerminkan pengaruh Hindu-Buddha. Meskipun kondisi situs memerlukan perhatian lebih, keindahan alam sekitar menambah daya tarik edukasi sejarah bagi peserta.

Harapan Kolaborasi Berkelanjutan

Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP UMP, Ipong Jazimah, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi lintas institusi dalam pemanfaatan situs sejarah di Banyumas. “Kerjasama ini tidak hanya berdampak pada masyarakat umum, tetapi juga bagi guru sejarah dan peserta didik dalam memaksimalkan potensi cagar budaya sebagai sumber belajar,” ujar Ipong.

Ia berharap kegiatan ini dapat memicu penelitian, pendidikan, dan pengabdian berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk sekolah di kawasan Barlingmascakeb dan wilayah lainnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu menyusun konsep Edukasi Sejarah berbasis pemanfaatan sumber sejarah lokal untuk mendukung pembelajaran yang lebih kontekstual dan menarik.

Kegiatan ditutup dengan diskusi reflektif dan sesi foto bersama di Situs Lembu Ayu. Edukasi sejarah dan penelusuran situs ini diharapkan menjadi pemicu kesadaran kolektif masyarakat Banyumas untuk menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan warisan sejarah yang kaya sebagai aset budaya dan pendidikan bangsa.(ashr/tgr)

Prodi Pendidikan Geografi FKIP UMP dan BPBD Banyumas Kolaborasi Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus berperan aktif dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di wilayah Banyumas. Dalam proyek Kolaborasi Penelitian Strategis (KATALIS) yang didanai oleh Kemendikbud-Ristek 2024, Prodi Pendidikan Geografi FKIP UMP bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai langkah awal pengembangan materi ajar kebencanaan yang berbasis kearifan lokal.

FGD ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, guru, dan tim peneliti dari UMP. Ketua tim peneliti sekaligus Ketua Konsorsium Disaster Resilience for Vital Education and Community Empowerment (DRIVE-UP), Dr. Anang Widhi Nirwansyah, M.Sc., menegaskan pentingnya integrasi pembelajaran kebencanaan ke dalam kurikulum pendidikan.

“Kebencanaan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga melibatkan edukasi berbasis masyarakat. Penting bagi kami untuk memastikan bahwa pembelajaran kebencanaan relevan dengan kondisi lokal dan mencakup kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Banyumas,” ungkap Dr. Anang.

Hasil FGD ini akan menjadi landasan pengembangan materi ajar kebencanaan yang lebih komprehensif. Selain itu, Prodi Pendidikan Geografi FKIP UMP juga berencana melakukan penelitian lanjutan untuk menggali lebih dalam kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari mitigasi bencana.

“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya bermanfaat bagi sekolah tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam membangun kesiapsiagaan bencana yang berbasis komunitas,” tutup Dr. Anang Widhi Nirwansyah, M.Sc.

Dalam FGD yang dipimpin oleh Dr. Sriyanto, M.Pd., terungkap kekayaan kearifan lokal masyarakat Banyumas dalam mitigasi bencana, khususnya terkait erupsi Gunung Slamet. Situs budaya, ritual, dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun menjadi bukti adaptasi masyarakat terhadap ancaman bencana.

“Kearifan lokal adalah aset penting yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun kesadaran mitigasi bencana di masyarakat. Dengan memahami nilai-nilai lokal ini, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih bermakna dan relevan,” ujar Dr. Elly Hasan Sadeli, M.Pd., Dekan FKIP UMP.

Kolaborasi UMP dan BPBD Banyumas bertujuan menghasilkan materi ajar yang tidak hanya berbasis ilmiah tetapi juga memperkaya wawasan siswa tentang kearifan lokal. Materi ajar ini akan diuji coba di sejumlah sekolah di Banyumas sebagai upaya menjadikan sekolah pusat edukasi kebencanaan.

Dijelaskan, Beberapa poin penting dari FGD meliputi Pembelajaran Kontekstual. Materi ajar harus relevan dengan budaya dan kondisi setempat. Integrasi Kearifan Lokal: Modul ajar akan memasukkan elemen kearifan lokal untuk meningkatkan daya tarik dan kebermaknaan pembelajaran. Peran Sekolah, Sekolah harus menjadi garda terdepan edukasi mitigasi bencana. Kolaborasi Multistakeholder: Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan akademisi menjadi kunci pengurangan risiko bencana.(awn/tgr)

PGPAUD UMP Gelar Visiting Lecture, Ajak Mahasiswa Praktik Pembelajaran IPA Interaktif

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar kuliah tamu bertajuk visiting lecture dengan menghadirkan ahli di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Susilawati, M.Pd., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Riau. Acara yang berlangsung di kampus UMP ini bertujuan untuk membekali mahasiswa PGPAUD dengan keterampilan dan pengetahuan tentang pembelajaran IPA yang interaktif untuk anak usia dini.
Ketua Program Studi PGPAUD UMP, Dr. Labib Sajawandi, M.Pd., menjelaskan bahwa kuliah tamu ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari praktik pembelajaran IPA yang menyenangkan dan berbasis kreativitas.
“Pada kegiatan ini, mahasiswa PGPAUD UMP dari seluruh angkatan belajar mengenai pembelajaran IPA di PAUD. Praktik secara langsung sudah dilakukan, seperti membuat hologram dari mika, dan media interaktif lainnya,” ujar Dr. Labib saat dikonfirmasi di Purwokerto, Selasa (19/11).
Beliau juga menekankan pentingnya kreativitas dalam pengajaran IPA di PAUD, agar anak-anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.
“Harapannya, mahasiswa yang hadir dapat memiliki keterampilan mengajarkan IPA secara interaktif dengan media yang nyata, karena anak-anak belajar melalui pengalaman konkret. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan kreativitas mahasiswa dalam menyelenggarakan pembelajaran sains yang membuat anak-anak lebih antusias,” tambahnya.
Kuliah tamu ini tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam praktik langsung, yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan media pembelajaran sederhana namun efektif. Salah satu contohnya adalah pembuatan hologram dari bahan sederhana seperti mika, yang menarik perhatian anak-anak sekaligus mempermudah pemahaman konsep-konsep IPA.
Susilawati, M.Pd., sebagai narasumber utama, turut memberikan inspirasi bagi mahasiswa PGPAUD dalam menyusun metode pembelajaran IPA yang kreatif. Beliau menekankan bahwa pembelajaran IPA di PAUD harus dirancang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini, yang cenderung belajar melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan lingkungan.
Acara ini merupakan bagian dari upaya PGPAUD UMP untuk mencetak calon guru PAUD yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia pendidikan modern. Melalui kegiatan seperti ini, UMP terus berkomitmen memberikan pengalaman pembelajaran yang inovatif dan berbasis praktik nyata, demi menciptakan generasi guru yang kreatif dan profesional.(sta/tgr)

Guru PAUD Menantikan Kebijakan yang Lebih Berpihak di Bawah Asta Cita Prabowo

Ratusan ribu guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia, berharap ada secercah harapan pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pada era kepemimpinan Prabowo – Gibran, harapannya ada realisasi peningkatan keadilan terhadap guru PAUD.

Dosen PGPAUD FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Irfan Fatkhurohman MPd menyampaikan, pada aspek kebijakan, sejauh ini negara baru berfokus pada peningkatan kualitas guru PAUD.

Kompetensi guru harus bergelar sarjana atau S1. Tetapi pada aspek kesejahteraan, kebijakan negara belum mendorong kesejahteraan secara memadai.

“Masih banyak guru PAUD yang bekerja dengan keikhlasan di luar nalar kemanusiaan. Tugas mulia sebagai guru yang merawat dan mendidik, belum mendapatkan perhatian. Terutama dari segi kesejahteraan,” katanya, Selasa (12/11/2024).

Pendidikan anak usia dini, merupakan fondasi dalam pembentukan dan persiapan generasi unggul Indonesia di masa yang akan datang.

Individu yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial adalah modal awal bangsa ini dalam melahirkan calon pemimpin negeri.

Pendidikan anak usia dini menjadi dasar pada masa ‘Golden Age’ perkembangan dan pertumbuhan sebagai bekal kehidupan dari berbagai aspek.

“Guru PAUD punya semangat meningkatkan kualitas pendidikan dan meraih gelar S1. Meskipun terdapat kebijakan RPL bagi guru PAUD dengan masa kerja tertentu, mereka masih mengalami kebimbangan terkait pembiayaan kuliah. Di sisi lain, gaji mereka seringkali tidak mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini membuat mereka terkadang harus mencari pekerjaan tambahan atau beasiswa non-pemerintah untuk meraih gelar S1. Karena beasiswa pemerintah yang tersedia, seringkali tidak dapat diakses karena faktor usia para guru,” kata dia.

Irfan menyampaikan, terdapat delapan visi atau Asta Cita dalam program Bapak Presiden Prabowo Subianto. Dari sisi program Asta Cita, peningkatan kesejahteraan guru termasuk dalam Asta Cita ke 4 yang memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, dan pendidikan.

Dalam turunannya akan terus menyediakan beasiswa bagi guru, memberlakukan upah minimum untuk kategori guru PAUD. Kemudian mengangkat guru menjadi ASN.

Ini menjadi angin segar, minimal dalam bentuk keberpihakan lewat sebuah visi yang dapat berjalan untuk kesejahteraan guru PAUD.

“Data Dapodik mencatat jumlah guru PAUD sekitar 460.204 orang, di mana sekitar 225.500 atau 48,7% belum memiliki gelar S1 dan pengetahuan bidang PAUD yang memadai. Perlu langkah strategis, agar terjadi keseimbangan antara kebijakan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru,” kata dia.

Sejatinya, harapan guru-guru PAUD se-Indonesia dapat menjadi kenyataan di era Presiden Prabowo Subianto. Meningkatkan penghargaan dan gaji guru PAUD yang masih menerima upah relatif rendah .

Meningkatkan profesionalisme guru PAUD melalui pelatihan, sertifikasi, serta program peningkatan kualitas pendidikan dan pengakuan terhadap profesi guru PAUD.

“Selain itu, kebijakan yang lebih berpihak pada peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru PAUD. Seperti pengangkatan guru PAUD menjadi ASN atau sejenisnya, serta pemberian beasiswa program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) PGPAUD,” katanya.

Guru PAUD Menantikan Kebijakan yang Lebih Berpihak di Bawah Asta Cita Prabowo. (12 November 2024). Diakses pada November 17, 2024 dari artikel: https://serayunews.com/guru-paud-menantikan-kebijakan-yang-lebih-berpihak-di-bawah-asta-cita-prabowo

Pengamat pendidikan: Perlu kajian matang jika UN kembali diterapkan

Jika memang perlu diterapkan kembali, pemerintah perlu memastikan bahwa UN tidak menjadi satu-satunya penilaian, apalagi untuk menentukan kelulusan.

Purwokerto (ANTARA) – Pengamat pendidikan Dr Elly Hasan Sadeli menilai perlu kajian dan pertimbangan matang jika Ujian Nasional (UN) kembali diterapkan sebagai ujian terstandar yang menentukan kelulusan siswa dan seleksi penerimaan peserta didik baru.

“Kemarin saya melihat Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ada upaya memberlakukan kembali Ujian Nasional. Tentu dalam perspektif saya bahwa kembalinya Ujian Nasional ini bisa menjadi isu yang kompleks, dan saya yakini akan melahirkan pro dan kontra,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Ia mengatakan beberapa aspek bisa dianalisis dari rencana penerapan kembali UN, antara lain dampak dari kualitas pendidikan, kesiapan sekolah, dan kesiapan siswa.

Selain itu, kata dia, harus dilihat pula bagaimana relevansi UN sebagai alat evaluasi pendidikan di era modern.

“Jadi yang pasti ada yang pro dan ada yang kontra meskipun mungkin beberapa guru setuju, beberapa guru tidak setuju. Bahkan menurut saya, yang paling banyak tidak setuju itu pasti siswa,” kata Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu.

Kendati demikian, dia mengakui Ujian Nasional merupakan salah satu alat ukur standar pendidikan, sehingga rencana pemberlakuan kembali UN diprediksi didasari oleh kebutuhan untuk memastikan standar nasional pendidikan.

Ia mengatakan hal itu disebabkan dengan adanya UN, pemerintah seperti punya instrumen untuk mengevaluasi dan membandingkan capaian siswa di berbagai wilayah Indonesia.

“Ini tentu saja bisa membantu pemerintah untuk mengidentifikasi kesenjangan kualitas pendidikan kita yang memang belum merata. Namun, pertanyaannya apakah UN ini alat ukur terbaik untuk tujuan, nah ini yang masih dipertanyakan terutama dengan adanya metode penilaian alternatif seperti Asesmen Nasional,” katanya.

Dalam hal ini, kata dia, Asesmen Nasional dilakukan untuk mengukur tiga hal yang meliputi asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

Akan tetapi, kata dia, Asesmen Nasional tersebut tidak dijadikan satu-satunya alat untuk melegitimasi siswa itu lulus atau tidak lulus.

“Kritik saya terhadap UN itu karena fokusnya lebih kepada hasil. Nah, ini tentu saja bisa mengurangi kualitas pembelajaran,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, guru dan siswa atau peserta didik kemungkinan lebih cenderung mengutamakan persiapan UN daripada pemahaman mendalam terhadap materi tertentu.

Oleh karena itu, muncul istilah kegiatan belajar mengajar hanya untuk kepentingan tes atau pembelajaran yang difokuskan pada soal-soal ujian.

Menurut dia, hal itu mengakibatkan proses pembelajaran menjadi terbatas pada materi yang akan diuji, sehingga mengurangi pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa serta mengurangi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

“Kemudian kesiapan infrastruktur dan guru harus diperhatikan karena kita tidak bisa pukul rata, sementara di berbagai wilayah infrastukturnya tidak merata seperti ketersediaan sumber daya manusia dan teknologi,” katanya,

Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan ketidaksetaraan peluang siswa untuk sukses di UN, sehingga pada akhirnya akan memperbesar kesenjangan pendidikan antarwilayah.

Dengan demikian jika UN akan dijadikan sebagai satu-satunya alat ukur kelulusan, kata dia, tentu harus disiapkan lebih dulu infrastuktur dan gurunya agar merata.

“Juga harus diperhatikan dampak psikologis pada siswa karena UN dapat meningkatkan stres pada siswa terutama jika UN menjadi satu-satunya alat penentu kelulusan,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan evaluasi pendidikan di banyak negara tidak hanya bertumpu pada satu tes atau ujian akhir yang seragam.

Bahkan saat sekarang, kata dia, sistem pendidikan di beberapa negara maju sudah mulai bergeser ke arah asesmen yang berbasis pada kompetensi, yang lebih menilai kemampuan praktis siswa dalam menghadapi kehidupan nyata.

“Mungkin kita bisa mengadopsi seperti itu meskipun memang UN bukan sesuatu yang keliru, karena merupakan alat ukur yang paling gampang untuk menentukan kelulusan,” katanya.

Terkait dengan hal itu, Elly mengatakan pemberlakuan kembali UN memerlukan pertimbangan yang matang dalam relevansinya untuk memenuhi tujuan pendidikan nasional, terutama di tengah perubahan dan inovasi dalam sistem pendidikan modern.

“Jika memang perlu diterapkan kembali, pemerintah perlu memastikan bahwa UN tidak menjadi satu-satunya penilaian, apalagi untuk menentukan kelulusan,” katanya menegaskan.*

Pengamat pendidikan: Perlu kajian matang jika UN kembali diterapkan. (5 November 2024). Diakses pada November 05, 2024 dari artikel: https://www.antaranews.com/berita/4443929/pengamat-pendidikan-perlu-kajian-matang-jika-un-kembali-diterapkan 

 

Guru Besar UMP, Prof Dr Sugeng Priyadi MHum Jadi Narasumber dalam Workshop Kodikologi Naskah Islam di Banyumas

Prof Dr Sugeng Priyadi MHum Guru Besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), menjadi narasumber dalam workshop bertema “Selira Kodikologi Naskah-Naskah Islam di Banyumas” yang diselenggarakan di UIN Saizu Purwokerto. Acara ini membahas ilmu kodikologi dan filologi, terutama dalam konteks naskah-naskah Islam di wilayah Banyumas.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Sugeng Priyadi menjelaskan bahwa kodikologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek fisik dari manuskrip, termasuk bahan, umur, tempat penulisan, dan identitas penulis atau penyalin.

“Kodikologi memberikan data penting mengenai latar belakang naskah yang sering kali menjadi koleksi perpustakaan besar, seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), koleksi Jawa Barat, dan lainnya,” ujar Prof Sugeng, Selasa (8/10).

Lebih lanjut, Prof. Sugeng menguraikan hubungan antara kodikologi dan filologi. Kodikologi, sebagai cabang dari filologi, berupaya memberikan informasi lengkap mengenai naskah tradisional tertentu yang memuat teks spesifik. Melalui kodikologi, para peneliti dapat melacak keberadaan naskah dalam berbagai koleksi perpustakaan, serta menggali naskah-naskah yang masih berada di tangan masyarakat sebagai koleksi pribadi.

“Acara ini mendapat sambutan hangat dari para peserta, yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, serta penggiat literasi dan budaya. Melalui workshop ini, diharapkan lebih banyak pihak yang akan terlibat dalam pelestarian dan penelitian naskah-naskah tradisional, khususnya di Banyumas, untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia,” pungkasnya.(tgr)

Mahasiswa PGSD UMP Ikuti Program Magang PKKM di Sanggar Jodhipati Gunung Kidul, Disambut dengan Pertunjukan Wayang Kulit

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengirimkan sejumlah mahasiswa untuk mengikuti Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) Kemendikbud, dalam kegiatan magang di Sanggar Jodhipati, Gunung Kidul.
Dalam acara penerimaan yang berlangsung khidmat, para mahasiswa disambut dengan pertunjukan wayang kulit yang dibawakan langsung oleh pengelola sanggar sebagai dalang, menambah kehangatan dan nuansa budaya lokal.
Sanggar Jodhipati, yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya tradisional di kawasan Gunung Kidul, telah lama berperan dalam melestarikan seni wayang kulit serta mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Pertunjukan ini sekaligus menjadi simbol dari kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya, di mana mahasiswa PGSD UMP diharapkan dapat belajar dan terlibat langsung dalam proses pendidikan berbasis seni dan budaya lokal.
Ketua Program Studi PGSD UMP, Aji Heru Muslim, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi yang besar atas sambutan hangat dari pihak Sanggar Jodhipati. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian penting dari pengembangan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam mengenal dan memanfaatkan seni budaya sebagai media pembelajaran di sekolah dasar.
“Kami sangat berterima kasih atas sambutan hangat dari Sanggar Jodhipati. Program ini memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari budaya lokal, yang tentunya akan memperkaya pengalaman mereka dalam menjadi pendidik yang kreatif dan inovatif. Seni wayang kulit, misalnya, bisa menjadi alat pendidikan yang efektif untuk mengajarkan nilai-nilai karakter kepada siswa,” ujar Aji Heru Muslim.
Mahasiswa yang mengikuti program ini akan menjalani berbagai aktivitas, termasuk pengamatan, praktik langsung, serta kolaborasi dalam penyusunan materi pembelajaran berbasis budaya. Diharapkan, pengalaman ini dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam menerapkan metode pengajaran yang relevan dan berbasis budaya di masa depan.
Dengan adanya program magang ini, UMP terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang menghubungkan mahasiswa dengan berbagai sektor, termasuk pelestarian budaya, guna memperkaya pembelajaran dan pengalaman mahasiswa di dunia nyata. Program ini juga diharapkan dapat berlanjut dengan kolaborasi yang lebih intensif antara UMP dan Sanggar Jodhipati. (Tgr)

PPG FKIP UMP Sukses Gelar Karya sebagai Puncak Proyek Kepemimpinan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), khususnya Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), kembali menggelar acara Gelar Karya yang sukses diselenggarakan untuk ketiga kalinya pada Sabtu (7/9/2024) lalu. Acara yang berlangsung di halaman FKIP UMP ini menjadi puncak dari proyek kepemimpinan mahasiswa PPG dan menandai gelar karya terakhir di tahun 2024.
Kaprodi PPG UMP, Agung Nugroho, M.Pd., dalam sambutannya, menegaskan bahwa gelar karya ini merupakan puncak dari berbagai proyek kepemimpinan yang dilaksanakan oleh mahasiswa, serta bagian dari pembelajaran yang berharga.
“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa PPG dapat belajar banyak hal mengenai proyek kepemimpinan, terutama belajar koordinasi dan kerjasama,” ujarnya.
Dekan FKIP UMP, Dr. Elly Hasan Sadeli, M.Pd., menyatakan bahwa acara ini memiliki relevansi kuat dengan program pemerintah, khususnya terkait dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
“Hasil kerja keras yang telah dilalui ini menghasilkan agenda yang berkaitan erat dengan kegiatan pemerintah, yaitu P5. Ini menunjukkan bagaimana program ini sejalan dengan upaya pendidikan nasional,” jelasnya.
Selain itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerjasama UMP, Saefurrohman, Ph.D., juga turut hadir dan menyampaikan kekagumannya terhadap antusiasme mahasiswa dalam menyelenggarakan acara ini.
“Gelar karya ini terlihat sangat luar biasa, di mana stand-stand penuh dan suasananya ceria. Ini adalah hasil dari kerja keras kalian semua dalam melewati perjalanan yang tidak mudah,” tuturnya dengan bangga.
Menurutnya acara Gelar Karya ini berhasil menarik perhatian banyak pengunjung, membuktikan keberhasilan mahasiswa PPG dalam menyelenggarakan agenda yang memberikan pengalaman praktis dan bermanfaat bagi pendidikan mereka. (snt/tgr)